Ruangan Merokok

artflow_201704120132-1

Ruangan merokok di kantorku ruangan kosong kecil tertutup seukuran kira-kira tiga kali empat meter hanya diberi dua exhaust fan untuk sirkulasi udara. Dindingnya dulu putih sekarang putih kecoklatan karena asap rokok yang membentur dinding setiap harinya, dicat putih lagi dan kecoklatan lagi. Tak pernah sekalipun dicat warna pink atau motif loreng harimau. Harimau tak pernah ada di sana yang ada hanya manusia-manusia pengepul asap. Sesekali aku bayangkan ada harimau merokok di sana bersama seekor tokek berwarna ungu. Harimaunya terbuat dari tanah liat dan tubuhnya kosong tanpa daging, tanpa jeroan, tanpa tulang serta berlubang segaris di punggungnya. Tokeknya jarang bunyi, takut ada perokok yang suka menghitung bunyinya disertai teriakan kata ‘miskin’, ‘kaya’ begitu diulang-ulang sampai jatuh miskin. Biarlah perokok itu kini jatuh miskin setelah jatuh dari tangga,…tangga nada, tidak sakit memang, tidak luka juga tubuhnya tapi suaranya jadi serak. Dia memang sering karaoke di atas bukit, hanya membawa pemutar mp3 dan speaker kecil untuk memutar musiknya lalu bernyanyi yang lebih mirip berteriak tanpa nada. Cita-citanya menjadi penyanyi latar bukan penyanyi utama karena dia malu bila dilihat orang banyak (jadi penyanyi latar dia bisa ikut sumbang suara sambil bersembunyi di balik drum atau ‘bas betot’). Dulu dia pernah jadi penyanyi utama di sebuah klub vokal (boysband-saat itu dia bisa bernyanyi sambil melakukan gerakan salto atau koprol). Suatu hari di pementasan dia diteriaki gadis-gadis sampai dia merasa bangga sekali tapi baru kemudian dia sadar, dia diteriaki bukan lantaran suaranya bagus atau wajahnya tampan tapi karena resleting celananya belum dikaitkan dan dia lupa pakai celana dalam, celana dalamnya yang bermotif loreng harimau. Peristiwa itu membuatnya malu, terutama pada burung dara peninggalan simbahnya yang diberi nama Dara Muda Daranya Para Remaja. Burung dara jantan bernama sepanjang itu begitu anggun dan tidak sepandan bila dibandingkan dengan ‘burung’ di antara kedua pangkal pahanya yang telah dilihat gadis-gadis cantik yang hadir di pementasan musik waktu itu. Pikirnya kenapa juga ‘itu’ disebut ‘burung’ bukan ‘bekicot’ atau ‘ubi’ atau ‘xxzzghhtfy €*#456#gggt’ (kalau yang terakhir ini susah sekali menyebutkannya, semisal milik laki-laki dinamakan begitu mungkin tidak akan ada perempuan latah cabul macam ‘begitu’). Untung saja tragedi lolosnya ‘burung’ waktu itu tersamarkan oleh asap dry ice yang mengepul tebal di atas panggung.
Membayang kini asap dry ice yang mengepul di panggung musik waktu itu meski tak setebal asap tipis dalam area merokok di tempat aku bekerja sama dengan burung-burung kertas yang aku rangkai menjadi penghias sangkar burung bila aku tidak bekerja lagi di sini dan merokok di area merokok ini seperti dulu di tengah malam aku tidak pulang ke rumah selepas kerja, duduk saja di area merokok sambil melukis bersama seorang perempuan yang baik sekali padaku lagi cantik bersama teman perempuannya yang juga temanku yang menikah dengan temanku sekerjaan dan kini menjadi calon ibu. Asap rokok memang bukan asap dry ice tapi aku pernah dibuatkan asap dry ice palsu untuk pentas juga memakai bahan gondorukem, entah bagaimana tapi memang asap mengepul juga. Pentas band itu bukan band beneran, band bohongan tapi aku suka dan aku tidak pernah mengeluarkan burung saat pentas waktu itu. Aku hanya pernah membayangkan punya band metal mengerikan; gitarisnya mengalungkan ular piton besar di leher, tubuh ular itu dililit pita warna pink lalu aku akan beryanyi dengan suara melengking dan aku membawa kurungan tertutup kain hitam bergambar tengkorak besar, para penonton akan bersorak histeris ketika aku membuka kurungan itu perlahan-lahandi sela-sela lagu saat gebukan drum menghentak panas, aku membuka kurungan itu, isinya seekor ayam petelur. Angan-angan itu tak pernah terwujud. Saat pentas palsu waktu itu aku hanya merokok saja sembari menyanyikan lagu berjudul ‘My Mother Fungky’, sama seperti saat ini di ruangan merokok tempatku bekerja, merokok saja sambil menulis catatan ini dan mengingat teman-temanku seperti sebuah patahan lirik lagu ‘sahabatku bagai kepompong’ (aku sadar aku kurang awalan ‘per’ dan mengganti akhiran ‘an’ dengan ‘ku’ pada patahan lirik lagu itu).

Semarang 11 April 2017- Jam istirahat makan siang ronde pertama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s