Gudi Gimbal

Project - Drawing 6 4

Gudi Gimbal nama kerennya karena dia suka musik reggae dan sangat mengidolakan Kurt Cobain juga jualan tahu gimbal, bukan dia yang jualan tapi tetangganya, tetangganya itu menumpang jualan bakso di teras depan rumahnya, nah keponakan tetangganya Gudi Gimbal itu yang jualan tahu gimbal tapi tidak suka mendengarkan musik reggae, pacar keponakan tetangga itu yang suka mendengarkan lagu sendu macam lagu Efek Rumah Kaca dan rambut panjangnya tidak gimbal, digerai lurus, hitam, lebat, berkilau dan belum pernah jadi model iklan shampoo Rambutku juga pernah di-gimbal selama dua hari tapi namaku bukan Gudi Gimbal tidak pula jualan tahu gimbal.

Project - Drawing 6 6

Gudi Gimbal sering ngamen, cari uang buat bayar kuliah, bukan buat bayar SPP per semester tapi buat jajan kalau lagi kuliah, kuliahnya di kantin karena dosennya memang suka mengajar di kantin, dosen itu dosen mata kuliah ‘menggambar benda’, rambutnya gimbal tapi tidak banyak cuma sedikit, kira-kira seukuran ibu jari seorang anak bayi. Bayi tentu saja waktu lahir rambutnya tidak gimbal. Kalau bayi itu lahir sudah gimbal rambutnya kasihan ibunya yang melahirkan dia, selain rambut gimbal akan membuat geli, bisa menggesek dan bisa juga akan membuat tersangkut. Bapak si bayi bisa saja menuduh ibu si bayi telah selingkuh dengan Bob Marley. ‘Mana mungkin mas, Bob Marley kan sudah matii!!….kecuali aku ini hantu’ protes ibu bayi itu. Tetapi kemudian ibu yang baru melahirkan itu menyadari sesuatu; dia tidak merasa sakit saat melahirkan bayinya. Dengan heran dia lalu, benar tidak terasa sakit, dia lalu duduk membelakangi bayi yang baru saja dia lahirkan juga bapaknya Si bayi, Si Bapak bayi terkejut melihat istrinya yang baru saja melahirkan itu punggungnya berlubang, bolong.
“Ka…ka kamu Sundel Bolong….” Bapak bayi itu pingsan seketika tak bisa meneruskan kata-katanya.
“Punggungku memang bolong tapi aku bukan sundel mas, aku wanita baik baik, cuma bolong saja .”
Aku dan Gudi Gimbal tidak pernah ada di tempat itu dan kami juga sama berdua tidak pernah sundel bolong. Aku hanya pernah ingin mengamen di bis-bis kota untuk cari uang maka dari itu aku kenalan dengan Gudi Gimbal, tapi aku tidak bisa bernyanyi, tidak bisa main gitar pula. Gudi Gimbal menyuruhku naik saja ke bis, sebisanya saja menyanyi, tak lupa ucapkan dulu basa-basi seperti misalnya ‘Selamat pagi para penumpang’ tak akan ada yang pernah menjawab salam itu. ‘Percayalah’ kata Gudi Gimbal. Aku lalu mencobanya di suatu hari. Aku paksakan naik bis kota meski gelagapan dan gemetar. Biarlah. Aku mulai bicara, menyapa, toh tidak aka nada penumpang yang membalas sapaanku.
“Selamat pagi para penumpang” sapaku. Tidak seperti dugaanku, seisi penumpang menjawab, “Selamatt pagi pengameeenn” kompak, serentak dan keras. Aku jadi makin keder dan benar-benar kaget, tak pernah ada penumpang menjawab sapaan pengamen. Aku malah ketakutan. Aku lalu turun menepi ke pinggir jalan. Bis itu pun melaju, aku baru tahu kemudian kenapa para penumpang itu menjawab sapaanku, di belakang bi situ tertera spanduk besar dengan tulisan besar ‘Rombongan Pengamen Piknik’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s