Lirik Lagu Sepasang Kekasih Pengecut Yang Takut Pada Perang

Ini adalah lirik dari lagu Sepasang Kekasih Pengecut Yang Takut Pada Perang
yang saya hiasi dengan doodle menjadi semacam vignet pada puisi.

Sepasang Kekasih Pengecut Yang Takut Pada Perang video lyric via youtube:

Tauvikel – Sepasang Kekasih Pengecut yang Takut Pada Perang

Lirik
Dan kami hanya sepasang kekasih pengecut yang takut pada perang
Bersembunyi di kebun rahasia dibuai nyaman pelukan menghidupkan

Mereka selalu berdua di bawah pohon ek besar tua di pinggiran lahan panjang
Sekian waktu mereka berdua bersama melihat matahari jingga yang tak bertahan lama
Bicarakan ketakutan dari kemungkinan yang akan terjadi dari dua hati yang saling tertarik
Laki-laki anak sawah dan perempuan anak pemimpin tentara dari tengah kota
Perempuan itu selalu tahu kenyataan tak akan bisa dibelokan dengan bisikan mimpi
Tak akan mudah dipetik seperti buah yang disiram si lelaki, tidak akan dan tidak
Tak juga bisa disesali sebab ini manusia, ini hati, ini kodrati, ini alami, ini rasa, ini cinta
Sementara tatanan hidup, norma, kekuasaan, keinginan, harkat, martabat, kemenangan itu harus
Cinta mereka telah salah tempat, terperangkap dalam jebakan pandangan keluarga yang berbeda
Dan mereka berdua berhati lembut, lebih pengecut, memilih benarkan yang diyakini para orang tua

“Jujur aku takut melangkah, aku takut pada mungkin dan mungkin yang aku tahu memang sulit”
“Tapi aku nyaman sekali denganmu, aku suka baumu” kata perempuan itu dan menitiklah air mata
“Aku tahu, aku juga selalu tahu siapa diriku ini, aku tidak sepantasnya bisa diterima” kata lelaki itu
“Lalu aku juga aku rindu, aku datangi rinduku, mengajakmu ke tempat sebiasa ini dan memelukmu”
Pelukan demi pelukan itu menghidupkan, melupakan segala urusan, karena dilakukan sepenuh rasa
Berhari-hari lamanya tak pernah mereka berdua lelah, tak pernah mereka lelah untuk bersama
Berhari-hari, berbulan-bulan, tahun pertama, tahun kedua, sekali mungkin lelah tapi kembali merekah, merekah bagai bunga, semerbak dan mewangi

Dan para pemberani di atas bumi tak akan menghiraukan
Sepasang kekasih pengecut butuh keajaiban untuk terus bersama

Di sana, di belakang pohon ek besar dan tua itu ada setapak jalan menuju sebuah kebun rahasia
Tempat terindah, jauh dari hiruk pikuk dunia, salah ya memang salah, dosa, dosa yang terindah
Sementara itu sampai tahun kedua mereka berdua tak pernah saling kunjung ke rumah
Sebatas depan pagar laki-laki itu mengantar, rumah besar, megah, di dalamnya ada lampu kristal
Dia lalu pulang melewati lahan sawah luas, berjalan di pematang yang menggaris lurus di tengahnya
Lahan itu kini kering tak ada padi ditanam sebab dikelilingi pancang bertulis ‘LAHAN UNTUK PABRIK GULA’
Hanya tersisa orang-orangan sawah termangu dalam sendu rindu pada burung-burung pipit

Ayah perempuan itu memerintahkan sepasukan tentara berjaga-jaga menghalau para petani sawah
Di pinggiran sawah ayah si lelaki tengah mengasah parang bersama para pemberani terbaik di desa
Tiga tahun sudah mereka tak lagi menyelenggarakan upacara panen padi, lumbung beras tak terisi
Di sela rindunya lelaki itu diteriaki untuk ikut mengasah senjata tajam, pedang, tombak dan panah
Lelaki itu tak pernah berani, ia keparat pengecut yang jatuh cinta pada anak perempuan si musuh
Ia tak ingin ada perang tapi siapa juga dia, lemah tak berdaya, ia pecinta yang kehangatannya lembut
Perempuan itu duduk di meja makan dengan pikiran membayang, melayang, ke bawah pohon rindang
Makanan pembuka, makanan utama serasa basi, hambar, tak berasa tanpa garam
Ayahnya bicarakan mungkin akan segera perang, melawan sekawanan petani tak sudi sawahnya dibeli
“Hah perang, apa harus seperti itu, tak adakah cara lain?”. Tak ada, tak sepakat, mereka melawan.

Dan kami hanya sepasang kekasih pengecut yang takut pada perang
Bersembunyi di kebun rahasia dibuai nyaman pelukan menghidupkan

Dan kami hanya sepasang kekasih pengecut yang takut pada perang
Bersembunyi di kebun rahasia dibuai nyaman pelukan menghidupkan
Mereka katakan itu dalam hati, dalam sebait nyanyian sepi , bisikan, saat sama sama sendiri
Kabar sudah terdengar, kebencian merebak, sesama manusia, di atas bumi yang sama
Seperti cinta yang kodrati, perang pun juga, lahir bersama cinta di atas dunia sejak dulu kala
“Aku jujur aku lelah mendengar kabar akan adanya perang, tak bisakah kita semua berdamai saja”
“Apa kamu ingin melepaskan aku?, aku tak bisa menjanjikan apapun, aku bukan aku saja,
Aku ada diantara keluarga, aku pengecut, aku tak berani melawan inginku sendiri,”
Lupakanlah saja aku, atau aku yang akan menjauh aku tidak bisa menjanjikan apapun untukmu
“Tidak, biarlah, entahlah, sampai kapan aku tak tahu, aku tidak ingin kehilanganmu, aku rindu”

Lelaki itu meratap.
“Aku tak bisa membayangkan perang menimpa kita di sini,
tapi apa kataku si pengecut ini, yang hanya punya cinta bukan kekuatan dahsyat mengerikan.
Aku yang bodoh dan tak tahu macam apa itu sengketa, makar, keyakinan, kemenangan
Aku, aku yang salah, lelaki pengecut ini yang mengajak memadu cinta tapi tak juga tak melangkah
sebab aku pengecut yang tak berani berlari menerima apa adanya, menghilangkan perbedaan.
Aku juga tak bisa bohong demi cinta kita menjadi satu kuacuhkan keluargaku, begitu juga kamu dan aku tak bisa memaksamu
Dan perang akan meledek kita sebagai sepasang kekasih tak berguna, dan aku si pengecut keparat ini sebabnya
tapi aku akan teriak pada dunia aku mengindahkanmu dan aku tahu ada kita yang jujur ingin cinta saat ini tak tahu nanti.
Gusti yang maha Kuasa ampunilah aku berteriak berdoa, datangkan pada kami cahaya keajaiban, aku mohon datangkanlah.
Sial, perang sudah dimulai, kita bersembunyi saja sementara gas air mata ditembakan dan tombak dilempar.
Sebab kita, sebab kita, sebab kita, sepasang kekasih pengecut jatuh cinta.”

Dan kami hanya sepasang kekasih pengecut yang takut pada perang
Bersembunyi di kebun rahasia dibuai nyaman pelukan menghidupkan.

Lirik: Tauvikel

Lirik di atas kemudian saya beri gambar doodle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s